Tuesday, July 28, 2026

4 Alasan Anak Pisah Rumah Dari Orang Tua Setelah Menikah Menurut Islam


Setelah menikah pisah rumah

Sahabat Desi’s Corner, apakah kamu tim orang tua yang anaknya setelah menikah pisah rumah atau tim yang anaknya tinggal bersama orang tua?

Alhamdulillah, Alloh masih memberi kesehatan badan dan kemandirian finansial untuk aku menjadi tim orang tua setelah anak menikah pisah rumah.

Gak terasa hampir tiga tahun tinggal sendiri setelah kakak menikah November 2023 lalu. Banyak orang tua khususnya yang mempunyai anak perempuan, keberatan jika ditinggal anaknya pisah rumah. Apalagi jika orang tua perempuannya cuma ada “sebelah”.

“Kenapa gak tinggal bareng anaknya? Kan ibu tinggal sendiri.” Hampir rata-rata semua yang tahu kalau aku tinggal sendiri, mereka berkata seperti itu. Kayak menyayangkan kalau orang tua pra lansia ini tanpa teman di rumah. Terlebih aku mempunyai riwayat jantung dan pasang PPM (Permanent Pacemaker).

Mungkin di bayangan mereka dengan tinggal sendiri berarti kesepian. Tidak ada teman ngobrol, tidak ada yang pantau kesehatan, kebutuhan, dan pertolongan jika diperlukan.

Banyak ketakutan jika anak menikah lalu orang tua merasa diabaikan. Apalagi ini anak perempuan satu-satunya yang bisa diandalkan.

Baca Juga: Yuk, Omongin 5 Hal Penting Ini Dengan Pasangan Sebelum Menikah

Pisah Rumah Setelah Menikah dalam Pandangan Islam

Memang keputusan pisah rumah atau tinggal bersama orang tua setelah menikah adalah pilihan bagi anak dan orang tua. Tapi kalau melihat kisah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam. Beliau juga membiarkan putrinya Fatimah pisah rumah ketika menikah dengan Ali bin Abi Thalib.

Rasulullah Shalallahu Alaihi Wa Sallam dan para sahabatnya juga menganjurkan untuk memberikan kebebasan kepada anaknya yang sudah menikah untuk memiliki tempat tinggal sendiri.

Seperti yang diriwayatkan dalam hadits Aisyah R.A beliau berkata :

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ، وَابْنُ، بَشَّارٍ قَالاَ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، أَخْبَرَنَا إِسْرَائِيلُ، عَنْ مَيْسَرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنِ الْمِنْهَالِ بْنِ عَمْرٍو، عَنْ عَائِشَةَ بِنْتِ طَلْحَةَ، عَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ، عَائِشَةَ رضى الله عنها أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ أَحَدًا كَانَ أَشْبَهَ سَمْتًا وَهَدْيًا وَدَلاًّ - وَقَالَ الْحَسَنُ حَدِيثًا وَكَلاَمًا وَلَمْ يَذْكُرِ الْحَسَنُ السَّمْتَ وَالْهَدْىَ وَالدَّلَّ - بِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ مِنْ فَاطِمَةَ كَرَّمَ اللَّهُ وَجْهَهَا كَانَتْ إِذَا دَخَلَتْ عَلَيْهِ قَامَ إِلَيْهَا فَأَخَذَ بِيَدِهَا وَقَبَّلَهَا وَأَجْلَسَهَا فِي مَجْلِسِهِ وَكَانَ إِذَا دَخَلَ عَلَيْهَا قَامَتْ إِلَيْهِ فَأَخَذَتْ بِيَدِهِ فَقَبَّلَتْهُ وَأَجْلَسَتْهُ فِي مَجْلِسِهَا

Dari Aisyah, Ummul Mu'minin: Saya tidak pernah melihat seseorang yang lebih mirip dengan Rasulullah ﷺ dalam hal keseriusan, sikap tenang, dan sifat menyenangkan - menurut versi al-Hasan: dalam hal pembicaraan dan ucapan. Al-Hasan tidak menyebutkan keseriusan, sikap tenang, dan sifat menyenangkan - daripada Fatimah, semoga Allah memuliakan wajahnya. Ketika dia datang mengunjunginya (Nabi), beliau berdiri (menyambut)nya, mengambil tangannya, menciumnya, dan membuatnya duduk di tempat yang beliau duduki; dan ketika beliau mengunjunginya, dia berdiri (menyambut)nya, mengambil tangannya, menciumnya, dan membuatnya duduk di tempat yang dia duduki.
(HR. Abu Daud no. 5217, dishahihkan al-Albani dalam Shahih Abu Daud)


Dalam hadits diatas lah kita dapat menyimpulkan dengan jelas bahwa kediaman Fatimah setelah menikah dengan Ali bin Abi Thalib terpisah dari rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Begitu pun dengan sahabat Rasul Abu Bakar yaitu Aisyah R.A. Setelah menikahi Aisyah, Rasul pun tidak tinggal satu rumah dengan sahabatnya itu. Meski status mereka adalah anak dan menantu.
 
Pun demikian, meski pisah rumah setelah berumah tangga, hubungan anak dan orang tua sekaligus sahabat tetap bisa berjalan dengan baik.

Rumah tinggal terpisah dari orang tua


Alasan Pisah Rumah Setelah Anak Menikah

Bukan tanpa alasan aku lebih memilih tinggal sendiri setelah kakak menikah dengan lelaki pilihannya. Tapi juga keputusan kakak dan suaminya. 

Sebelum menikah, kakak dan calon suaminya waktu itu, sudah mencari rumah kontrakan. Begitu selesai resepsi, mereka berdua langsung menempati rumah kontrakannya itu. Tanpa menginap satu malam pun di rumah orang tua masing-masing. Baik dari pihak perempuan maupun laki-laki.

Ini 4 alasan setelah menikah anak pisah rumah atau tidak tinggal bersama orang tua:

1. Belajar Mengurus Rumah

Setelah menikah, kakak jadi tahu bagaimana cara mengurus rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, mengelap, mencuci, kebutuhan bulanan, harian, belajar memilih prioritas pekerjaan rumah tangga dan lainnya.

Biasa tinggal serumah dengan orang tua terima beres. Paling sesekali saja mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Dengan pisah tempat tinggal, anak akan belajar cara mengurus rumah.


2. Belajar Mengatur dan Mengelola Keuangan

Pengeluaran rumah tangga tinggal bareng orang tua dan sendiri, pastinya berbeda. Kalau tinggal bareng, anak masih bisa mengandalkan orang tua. Walaupun anak memberi uang bulanan sebagai biaya hidup bersama. Tetap saja selama tinggal bersama, orang tua akan menutupi kekurangan kebutuhan rumah tangganya.

Dengan tinggal pisah rumah setelah menikah. Anak akan mengelola keuangannya bersama suami. Entah itu menabung bersama untuk membeli atau menyewa rumah, mengatur belanja bulanan dan dapur, jajan atau entertainment, dan lainnya. Pastinya semua pengeluaran harus didiskusikan dan diputuskan bersama, agar terhindar dari peribahasa lebih besar pasak daripada tiang.

Alasan pisah rumah dari orang tua

3. Komunikasi Tanpa Penghalang

Tinggal berdua memungkinkan anak dan suaminya bisa berbicara bebas tanpa khawatir orang tua dapat mendengar apa yang sedang dibicarakan oleh mereka.

Komunikasi adalah kunci rumah tangga langgeng. Komunikasi sehat maka hubungan suami istri pun sehat.

Dengan tinggal terpisah dari orang tua, anak yang sudah menikah dapat berdiskusi tentang masa depan, rencana, dan mencari solusi dari setiap permasalahan rumah tangga yang timbul.

Baca Juga: Please, Jangan Jadikan 6 Alasan Ini Untuk Menikah Dengan Pasangan

4. Menghindari Ipar yang Bukan Mahram

Suami kakak tiga bersaudara dan semuanya laki-laki. Anak pertama sudah menikah tapi tidak tinggal bersama di rumah orang tuanya.

Kalau kakak tinggal bersama mertua, berarti kakak akan bertemu adik ipar laki-laki dari suaminya.

Uqbah bin 'Amir radhiyallahu 'anhu, Rasulullah SAW bersabda,

إِيَّاكُمْ وَالدُّخُولَ عَلَى النِّسَاءِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَرَأَيْتَ الْحَمْوَ . قَالَ الْحَمْوُ الْمَوْتُ

Artinya: "Hati-hatilah kalian ketika menemui para wanita". Lalu seorang laki-laki Anshar berkata, "Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat Anda tentang saudara ipar?". Beliau menjawab, "Ipar adalah maut!" (HR. Bukhari no. 5232 dan Muslim no. 2172)

Nggak perlu dijelaskan lebih lanjut lah ya tentang ipar adalah maut ini. Apalagi ada filmnya. Bukan berburuk sangka, tapi alangkah lebih baik tidak tinggal bersama dengan yang bukan mahramnya. Entah itu perempuan atau pun laki-lakinya.

Baca Juga:   7 Cara Meluluhkan Hati Pria Ala Desi's Corner

Jika ditelusuri lebih jauh, mungkin masih ada beberapa alasan lain mengapa pisah rumah setelah menikah lebih baik dibanding tinggal bersama orang tua. Seperti cara mendidik anak, perbedaan selera dalam masakan, orang tua yang menceramahi anaknya (kadang orang tua suka lupa kalau anaknya sudah menikah. Jadi suka bablas deh ngomongnya). Atau alasan lain sesuai dengan kondisi masing-masing keluarga. 





No comments:

Post a Comment