Monday, March 6, 2023

Ronggeng Dukuh Paruk, Buku Favorit yang Paling Memorable


Ronggeng dukuh Paruk, buku favorit

Sudah lama banget aku nggak baca buku khususnya novel. Tapi dari sekian banyak novel yang kupunya. Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari adalah buku favorit yang paling memorable.

Sebetulnya bingung mau pilih yang mana. Soalnya waktu ditanya buku favorit yang paling memorable. Di pikiranku itu terlintas, Ahmad Tohari dengan buku Ronggeng Dukuh Paruk dan Bekisar Merah, Eka Kurniawan dengan Cantik Itu Luka, Leila S Chudori dengan karyanya Pulang dan Nadira, Alexandre Dumas dengan Monte Cristo, Frances Hodgson Burnett dengan bukunya The Secret Garden, Anton Chekhov dengan Three Years.

Jangan ditanya bercerita tentang apa buku-buku itu. Secara aku tuh, orangnya lupaan. Aku cuma ingat kalau aku tuh, suka banget dengan buku-buku itu.

Dari beberapa buku favorit yang paling memorable di atas. Aku pilih yang akan ditulis disini adalah, Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari.

Selain bukunya memorable karena jalan ceritanya. Buku ini juga dibeli karena jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cover buku berwarna oranye dengan seorang wanita yang sedang menari.

Baca Juga: Review Buku Cerita Anak Renny Yaniar

Blurb Ronggeng Dukuh Paruk

Kalau dilihat dari judul-judul buku yang sudah disebut di atas. Aku nggak berpikir itu buku sastra. Setiap memilih buku, judul memainkan peran penting. Soal cover aku nggak terlalu masalah.

Di bagian belakang biasanya ada blurb yaitu inti cerita terbaik dari buku itu. Blurb dari buku Ronggeng Dukuh Paruk itu kurang lebih seperti ini.

Semangat Dukuh Paruk kembali menggeliat sejak Srintil dinobatkan menjadi ronggeng baru, menggantikan ronggeng terakhir yang mati dua belas tahun yang lalu. Bagi pendukuhan yang kecil, miskin, terpencil, dan bersahaja itu, ronggeng adalah perlambang. Tanpanya, dukuh itu merasa kehilangan jati diri. Dengan segera Srintil menjadi tokoh yang amat terkenal dan digandrungi. Cantik dan menggoda. Semua ingin pernah bersama ronggeng itu. Dari kaula biasa hingga pejabat-pejabat desa maupun kabupaten. Namun malapetaka politik tahun 1965 membuat dukuh tersebut hancur, baik secara fisik maupun mental. Karena kebodohannya, mereka terbawa arus dan divonis sebagai manusia-manusia yang telah mengguncangkan negara ini. Pedukuhan itu dibakar. Ronggeng beserta para penabuh calungnya ditahan.

Hanya karena kecantikannya lah Srintil tidak diperlakukan semena-mena oleh para penguasa di penjara itu. Namun pengalaman pahit sebagai tahanan politik membuat Srintil sadar akan harkatnya sebagai manusia.

Baca Juga: 5 Sikap Inspiratif Drakor Heavenly Idol

Ahmad Tohari

Buku favorit yang aku jadikan paling memorable ini ternyata gabungan dari tiga judul sekaligus atau trilogi.

Yaitu, buku seri Ronggeng Dukuh Paruk: Catatan Buat Emak, Lintang Kemukus Dini Hari, dan Jantera Bianglala.

Lupa-lupa ingat kapan aku membelinya. Mungkin sekitar tahun 2015-2016 dengan harga 70 ribuan rupiah gitu.

Buku ini memang layak dibaca. Terbukti buku Ahmad Tohari sudah dicetak sebanyak dua belas kali sejak pertama kali diterbitkan pada 1982.

Bahkan Ronggeng Dukuh Paruk telah terbit dalam lima bahasa, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Jerman, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris.

Lewat karyanya Ronggeng Dukuh Paruk Banyumasan (novel bahasa Jawa, 2006) Ahmad Tohari yang lahir pada, 13 Juni 1948 meraih Penghargaan Sastera Rancagé 2007.

Apa yang Menjadi Memorable Dari Buku Ronggeng Dukuh Paruk Ini?

Buku setebal 397 halaman dengan genre novel dewasa, masih membekas di kepalaku. Meski tidak detail. Tapi aku masih ingat beberapa bagian dari buku favorit yang paling memorable ini.

Baca Juga: 13 Serial Drakor Tayang di April 2022

Bagian paling memorable dari novel Ronggeng Dukuh Paruk:

1. Belajar sejarah dan kehidupan desa yang lugu

Dengan setting tahun 1965 dan cerita yang disampaikan begitu detail. Aku merasa seperti benar-benar berada pada tahun tersebut.

Tahu dong, kalau tahun 1965 lagi zaman PKI. Nah, secara garis besar cerita dalam novel ini diisi tentang penderitaan, keterpinggiran atau kenelangsaan masyarakat bawah.

Kehidupan masyarakat Dukuh Paruk masih memiliki sistem kepercayaan kepada roh-roh leluhur tanpa mau berpikir terbuka dan menyeimbangkan pemikiran dengan kemajuan zaman yang terjadi.

Mereka lugu dan terikat dengan segala adat turun temurun yang sudah berjalan. 

2. Belajar budaya

Barangkali Sahabat Desi's Corner ada yang berasal dari Banyumas atau sekadar ingin mencari tahu tentang budaya ronggeng.

Diceritakan dalam Ronggeng Dukuh Paruk, jika Srintil tokoh utama yang terpilih menjadi ronggeng di dukuh tersebut harus menjalani tradisi seorang ronggeng dengan adat bukak-klambu (melepas keperawanan). Seakan menjelaskan bahwa adat berada di atas moral.

Baca Juga: Review Film Bob Si Kucing Jalanan

3. Diksi sederhana dan penuh makna

Ahmad Tohari yang pernah mengenyam bangku kuliah Fakultas Ilmu Kedokteran Ibnu Khaldun, Jakarta (1967-1970), Fakultas Ekonomi Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto (1974-1975), dan Fakultas Ilmu Sosial & Ilmu Politik Universitas Jenderal Soedirman (1975-1976).

Menuliskan kisah ronggeng ini dengan gaya bahasa yang jarang ditemui pada novel-novel lainnya. Indah, sarat makna, membuat yang membacanya hanyut tenggelam dalam cerita yang disuguhkan.

Seperti kutipan berikut ketika Srintil masih kecil.
Betapa kecil manusia di tengah keperkasaan alam. Di bawah lengkung langit yang megah Nyai Sakarya beserta cucunya merasa menjadi semut kecil yang merayap-rayap di permukaan bumi, tanpa kuasa dan tanpa arti sedikit pun.
Atau kalimat romantis berikut:
Aku tak bisa berkata-kata. Bahkan dalam beradu pandang dengan Srintil, aku kalah. Kurang ajar. Dasar ronggeng, pandangan matanya tak dapat kutantang. Anehnya caranya memandang membuatku senang.

Kira-kira begitu deh, tentang salah satu buku favorit yang paling memorable bagiku. Aku suka semua buku-buku yang sebelumnya sudah disebutkan di atas.

Semua punya keunikan, baik gaya bahasa, gaya menulis dan bercerita, dan penyampaian pesan yang halus dan mengena di hati.

Kalau belum baca dan penasaran tentang buku ini. Sahabat bisa meminjamnya di iPusnas.  

Buat Sahabat Desi's Corner, buku apa yang paling memorable? Ikutan nyontek, dong. Kali aja bisa pinjam di iPusnas.

No comments:

Post a Comment